Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran”

Pada dasarnya setiap bayi yang lahir ke dunia adalah bibit juara <ingat persaingan sperma untuk mampu membuahi telur kan..??>, meskipun kemudian saat tumbuh kembang, mengalami kondisi pengasuhan yang tidak ideal, atau mengalami kegagalan tumbuh kembang akibat cacat fisik bawaan <autis, down syndrome, tuna-rungu-netra-daksa-wic

ara>. Kita orang tua harus mengangkat setiap penghalang yang memisahkan anak kita dari kesempatan menemukan kekuatan dari kecerdasannya.

Dijelaskan kecerdasan seorang manusia begitu kompleks, sehingga tidak terkait dengan kondisi fisik dan kondisi otak apalagi hasil tes standar. Sebaliknya kecerdasan itu harus berkembang dengan berpijak pada landasan setiap orang punya kemampuan untuk DISCOVERING ABILITY, sehingga saat menemukan RIGHT PLACE orang tersebut akan mampu menebarkan BENEFIT nyata yang berarti pada lingkungannya.

Dari penjelasan di atas perlu rasanya kita mendefinisi ulang tujuan orang tua mendidik anak-anaknya baik di sekolah maupun di rumah, bukan hanya untuk jadi orang pintar yang nilai rapotnya gemilang. Tetapi lebih utama adalah demi menjadikan anak-anak kita manusia yang kreatif dan mampu memecahkan setiap masalah sedini mungkin. Digabung dengan penginstalan Tauhid dan Akhlak dalam agama saat membangun karakter mereka lewat pola asuh di rumah. Maka kita boleh menaruh harapan besar pada gilirannya meraka akan mampu menjadi generasi penerus yang bermanfaat bagi umat dan agamanya.

Tahap perkembangan otak anak 0 – 21 tahun menjadi 3 periode penting yang di kutip dari Hadits Rasulullah saww, sebagai berikut :

– 7 tahun pertama :
Biarkan anak bebas bermain tidak boleh ada hukuman, saat umur ini anak adalah RAJA, yang tidak pernah salah.

– 7 tahun kedua :
Kenalkan anak pada hal baik dan buruk dalam budi pekerti, buat kesepakatan dengan anak. Beri pujian saat mereka berbuat baik dan beri hukuman <bukan hukuman tapi konsekuensi>, saat mereka bertindak buruk atau diluar kesepakatan. Saat umur ini anak adalah PEMBANTU yang harus belajar menaati peraturan dan melaksanakan ketentuan.

– 7 tahun ketiga :
Beri anak kesempatan untuk mencari alternatif dan biarkan mereka memilih yang paling sesuai dengan dirinya. Saat umur ini anak adalah WAZIR / MENTERI yang harus bertanggung jawab terhadap tugas-tugas dan keputusannya.

“Biarkanlah anak-anak kalian BERMAIN dalam 7 tahun pertama, kemudian DIDIK dan BIMBINGLAH mereka dalam 7 tahun kedua sedangkan 7 tahun ketiga jadikanlah mereka bersama kalian dalam MUSYAWARAH dan MENJALANKAN TUGAS”
<Muhammad Rasulullah SAWW>

“Siapa di antara kita selaku ortu yang pernah menghukum anak di 7 tahun petama, dengan kekerasan verbal maupun fisik…??” o…oww berasa kena tinju telak, termasuk saya.

“Maafkan Mama yaa Nak.. telah mengurangi jatah bahagiamu di 7 tahun pertama, dengan banyak membentak, memakai intonasi suara sampai 5 oktaf saat nyuruh ini dan itu.” Hiks..hiks.. “ Belum lagi pukulan dan cubitan yang sempat mendarat di tubuh mungilmu. Astaghfirullah…”

Apabila 7 tahun pertama lewat dengan cara yang SALAH maka 7 tahun kedua orang tua akan banyak mengalami HAMBATAN dalam BERKOMUNIKASI dengan anaknya, AKIBATNYA 7 tahun ketiga anak akan RENTAN dan TUMBUH jadi PRIBADI yang KEHILANGAN KEPERCAYAAN dan MORAL.

Untuk menjauhkan orang tua dari kesalahan di masa mendatang maka saat anak menjadi RAJA kecil penting bagi orang tua untuk selalu :

1. Membiarkan mereka bebas bertindak, memberi perintah, bermain dan bersenang-senang..<sebenarnya saya sempat ingin bertanya tentang posisi mendidik kemandirian sejak dini karena anak umur 1-5 tahun sudah mulai mampu membantu diri sendiri jika diarahkan dengan benar. Apakah selalu melayani mereka tidak akan membuat mereka jadi manja..??>

2. Memberi perhatian dengan santun penuh kasih sayang dan kelembutan dalam tutur kata.

3. Memberi jawaban-jawaban positif untuk semua pertanyaan mereka.

4. Tidak memberikan disiplin yang keras dan kaku

5. Anak terdidik dengan mengambil contoh dari orang tua, keluarga, guru dan lingkungannya.

6. Orang tua harus memastikan kebutuhan anaknya akan kebebasan senantiasa terpenuhi tanpa harus melupakan keamanan dan keselamatan mereka.

7. Menemani anak dengan kuantitas pertemuan yang memadai.

Untuk anak usia di bawah 7 tahun, sebaiknya jangan bicara kualitas, tanpa kuantitas.

Karena ada 4 spesial moment yang mereka butuhkan setiap hari dari keberadaan orang tuanya. Yaitu :

1. Jadilah orang pertama yang dilihat anak kita saat mereka membuka mata di pagi hari.
2. Penting untuk selalu melepas kepergian mereka ke sekolah
3. Anak juga membutuhkan orang tua ada saat mereka pulang dalam kondisi lelah.
4. Orang tua seharusnya jadi wajah terakhir yang ditatap anaknya sebelum mereka terlelap.

Apakah kita sudah menyambut mereka dengan kata-kata penghiburan yang dapat mengurangi kepenatan tubuh dan pikiran sepulang sekolah. Ataukah kita termasuk orang tua yang hobi mengajukan kalimat standar “Hari ini belajar apa..??” atau bahkan langsung bertanya “Ada PR nggak..??” sebelum mereka sempat duduk dan bersalin pakaian. Sungguh satu ungkapan yang tidak dibutuhkan otak anak kita.

Berikut adalah pendapat pakar tumbuh kembang anak tentang masa Golden Age :

– 99% masalah yang dialami anak Golden Age berasal dari kesalahan orangtua dan gurunya di sekolah formal.

– Rumah dan sekolah seperti penjara yang mengekang kebebasan anak untuk bertindak, beraktivitas dan bermain. <Hitung berapa kali anda ucapkan tidak dan jangan pada anak. Sadarilah bahwa ungkapan ‘tidak’ dan ‘jangan’ tanpa penjelasan yang dapat ditangkap adalah penjara bagi anak.

– Mengharap anak di sekolah dan di rumah turut perintah guru dan orangtua untuk selalu tenang dan diam adalah sebuah kesalahan besar. <Ingat lagu “tangan ke atas..tangan ke samping.. itu adalah sebuah cara pemasungan otak anak..>

Materi ini memang ditekankan untuk memperbaiki pola asuh dan pendidikan anak Golden Age, agar tahapan berikutnya dapat terlewati dengan lebih mulus.
Timbul kemudian pertanyaan dari orang tua seperti saya yang sudah bertindak ‘bodoh’ pada anak di tahap ini.
Meminta maaf pada anak dan selalu mengutamakan sikap, perkataan dan contoh yang positif.
Jangan kemudian justru memanjakan anak di atas 7 tahun.
Tetap lanjut sesuai tahapan berikutnya.

Semoga Bermanfaat buat kita para orang tua…….

Source Catatan Grup ’Smart Parenting’
Shared By Catatan Catatan Islami Pages