“kami punya mimpi kecil dan ingin mewujudkan mimpi itu, meskipun kecil. Itu saja”

Ya, itu saja. Kalaupun yang kecil ini pada akhirnya akan menjadi besar, ya proseslah yang akan membesarkannya. Kalaupun yang kecil ini tetap saja kecil. Biarkan sajalah. Toh itu juga karena proses. Kalaupun yang kecil ini pada akhirnya akan semakin kecil lalu pelan-pelan mengecil lagi dan hilang sama sekali, juga karena proses.

Mimpi kecil itu bernama membaca. Lalu hal yang ingin kami wujudkan itu, meskipun kecil, mengajak orang lain juga ikut membaca. Lalu apa lagi ya yang harus dijelaskan? Kami sebenarnya tidak tau caranya menjelaskan secara saksama apa lagi dalam tempo sesingkat-singkatnya. Karena kami terbiasa ngawur (dan tentu saja ngawur tidak bisa dikategorikan sebagai “saksama”) dalam memberi penjelasan. Yang ngawur itu, ya itu tadi, ingin mengajak orang-orang ikut membaca. Duh, kok diulang-ulang sih?

Ok, di sini kami mencoba untuk mengongkretkannya.
Ketika A. Yani Mega Mall berdiri, wussss, serta merta minat orang berbelanja di kota ini semakin tinggi. Apa yang dibelanjakan? Ya, apa saja. Ketika ada lagi bioskop tuentiwan, wusssss, serta merta banyak pasangan muda-mudi yang jadian. Ketika warnet-warnet bertaburan, wusss serta merta …. duh, banyak hal yang serta merta bermunculan dengan munculnya warnet ini.

Ketika itulah, perpustakaan yang sejak semula sudah sepi, semakin sepi. Ketika itulah semakin banyak orang yang semakin PD untuk memproklamirkan diri bahwa “saya tidak suka baca”. Ketika itulah kecerdasan generasi mendatang dipertanyakan. Ketika itulah muncul gagasan untuk bikin perpustakaan alternatif, yang orang-orang senang datang ke situ, yang orang-orang mau ngajak pacarnya ke situ, yang orang-orang mau membaca di situ. Sudah konkret belum kami memberikan penjelasan tentang kenapa gerakan 1000 buku ini bermula?

Kalau belum konkret, maaf ya. Tapi kami akan coba lagi untuk memberi penjelasan, supaya semakin konkret. Tapi yang pasti, apa yang kami coba jelaskan, yang mungkin belum konkret ini, telah benar-benar kami wujudkan dengan konkret. Yaitu berupaya untuk membangun sebuah perpustakaan sederhana untuk rakyat untuk perubahan. Dan untuk benar-benar menjadi konkret, kami butuh partisipasi siapa saja untuk menyumbangkan buku-bukunya bekas atau pun baru.

Begitulah kira-kira, nanti kalau saudara-saudara mbaca terus, kapan nyumbangnya. Cukup sampai di sini dulu ajah yah sementarah inih.